Program Studi S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomika, Bisnis dan Humaniora (FEBH) mengadakan kegiatan Web Seminar Nasional mengenai “Usaha Mikro Kecil Menengah” Bersama GRAB Indonesia & PT. Kutus Kutus Herbal. Kegiatan ini merupakan program rutin Prodi Akuntansi Undhira.
Kegiatan web seminar nasional ini dibuka oleh Wakil Rektor II Bidang Operasional, SDM dan Pemasaran. Dari sambutan yang disampaikan Bapak WR II bahwa kita sebagai individu harus mampu berinovasi dan mampu mengatur segala bentuk aset yang kita miliki terlbih lagi di tengah masa pandemi ini. pada kesempatan ini juga Ibu Kaprodi Akuntansi Ni Luh Putu Sri Purnama Pradnyani, SE., M.Si., Ak menyampaikan ucapan terimakasih atas kehadiran peserta yang berjumlah 248 orang yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Universitas Dhyana Pura.
Pembicara dalam webinar ini ada dua orang pembicara. Pembicara pertama adalah Bapak Putu Arya Wirasetyanta, SE., Ak., S.H., M.Ak., MH., CA., ACPA., ACFE selaku Bank Supervisor OJK dan Bapak Made Suarja, SH., MH. selaku Sekretaris Perbarindo Bali. Permbicara pertama Bapak Putu Arya Wirasetyanta menysampaikan peranan OJK dalam transaksi digital di Indonesia. OJK menjelaskan bahwa segala bentuk kegiatan transaksi finansial yang dilakukan oleh masyarakat dengan lembaga keuangan dan non keuangan akan selalu diawasi oleh OJK salah satu yang marak sekarang ini adalah adanya pinjaman online. Salah satu cara yang ditempuh oleh OJK dengan membentuk Satgas Waspada Investasi.
Satgas Waspada Investasi juga menyampaikan bahwa terdapat satu entitas yang dilakukan normalisasi yaitu Luminesia.com karena telah membuktikan bahwa kegiatannya bukan merupakan kegiatan investasi ilegal. Satgas Waspada Investasi memiliki tugas sebagai berikut:
- Memastikan pihak yang menawarkan investasi tersebut memiliki perizinan dari otoritas yang berwenang sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan.
- Memastikan pihak yang menawarkan produk investasi, memiliki izin dalam menawarkan produk investasi atau tercatat sebagai mitra pemasar.
- Memastikan jika terdapat pencantuman logo instansi atau lembaga pemerintah dalam media penawarannya telah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pembicara kedua Bapak Made Suarja, SH., MH menyampaikan BPR pada era digital harus dapat mengikuti kondisi pasar pada masa kini dan akan mengubah pasar di masa yang akan datang. Begitu juga dengan bisnis Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sangat menantang, karena banyak BPR yang bisnisnya menurun dan bahkan ada juga yang sudah merugi. Untuk itu BPR perlu senantiasa melakukan atau memperbaharui strategi bisnis BPR di era digital .
Di era digital telah memunculkan produk-produk baru yang mempengaruhi bisnis bank dan juga bisnis BPR, produk P2P (peer to peer) lending sangat mempengaruhi bisnis kredit perbankan. Selain itu produk digital seperti crowd funding.
Untuk dapat bertahan dan bertumbuh, BPR harus terus memperbaharui strateginya agar relevan dengan perkembangan zaman. Salah satu strategi untuk memperkuat manajemen bisnis BPR yaitu dengan memperkuat manajemen bisnis intermediasi. Intermediasi merupakan legal standing dari sebuah bank seperti bank perkreditan rakyat (BPR) , Tekfin yang tidak memilikinya , Posisi ini BPR harus mengoptimalkannya. Manajemen bisnis intermediasi perlu mengadopsi perkembangan teknologi untuk bisa berkompetisi dengan tekfin. Pemilihan teknologi yang murah atau sesuai dengan kemampuan adalah salah satu cara untuk bisa adaptif di era digital
Di era digital hampir semua bisnis, mau tidak mau harus melakukan investasi dibidang teknologi sistem informasi. Namun strategi penguatan bidang teknologi informasi bukanlah investasi yang murah, masing-masing usaha harus cermat dalam mengkalkulasi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Strategi harus menjawab tantangan untuk menjadikan produk perbankan yang kompetitif, baik untuk produk tabungan maupun produk kredit. Selain itu juga perlu membuat strategi manajemen risiko, kedua strategi untuk mencapai hasil bisnis yang paling optimal.
Salam Teladan dan Unggulan.
Admin.
